AIDCA, Konsep Marketing Lama


AIDCA model adalah formula yang acap digunakan untuk analisa dan acuan dalam perencanaan sebuah iklan secara menyeluruh yang mempengaruhi segala aspek persiapan pre-produksi, produksi, dan pasca-produksi kampanye iklan; seperti: elemen-elemen desain, materi atau konten iklan, format copywriting, media penyampaian iklan, dan lain-lain.



Formula AIDCA tersebut dibuat ada dasarnya. untuk memahami artikel ini, Anda diwajibkan membaca artikel : AIDA, Mbahnya marketing komunikasi ini terlebih dahulu.

Oke, saya anggap Anda sudah membaca ya.

Seperti yang sudah kita ketahui, ternyata sebelum konsumen mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau jasa, tidak mungkin langsung sekonyong-konyong begitu saja konsumen langsung membeli, semua diawali dari menyadari keberadaan merek, kemudian berlanjut menjadi tertarik, berhasrat membeli, lalu mulai memutuskan untuk ambil tindakan.

Dasar itulah yang melahirkan model AIDA. Dengan memahami psikologi konsumen, model ini diharapkan dapat membantu perancang kampanye iklan untuk merumuskan strategi iklan, dimana sebuah pesan iklan  pun ternyata bisa dirancang tidak langsung hajar, tetapi mengikuti alur konsumen tadi.

Jadi tidak langsung suruh beli, tapi dibuatkan kampanye promosi agar perhatian dulu, kemudian merancang konsumen agar tertarik dulu, dan seterusnya. 

Tapi apakah formula ini beneran efektif?

Tentu saja tidak selalu. Secara alur interaksi mungkin memang tidak salah, Namun yang jadi masalah adalah kondisi zaman itu selalu berubah, begitu juga dengan keadaan pasar. 

Oleh karena itu formula ini pun banyak dimodifikasi, sehingga muncul banyak model baru, salah satu yang paling legendaris adalah AIDCA. . 

Ide yang keren dalam formula AIDCA ini adalah memasukan Conviction (keyakinan) ke dalam formula ini. Mungkin memang saat ini kita sedang era krisis keyakinan ya. … menikung pacar teman lah, atau pacar kita ditikung teman lah… bukan, bukan itu.

Kita sebut saja misalnya label Halal, BPOM, testimoni, semua adalah hal yang berkaitan dengan keyakinan. Untuk meyakinkan seorang konsumen pun tidak mudah, punya tantangan tersendiri, karena konsumen mengkhawatirkan banyak hal.




Kalau di rangkum maka, isi formulanya akan seperti ini :

1. Attention 
Sudah tahu dong? Hal pertama dalam proses komunikasi dalam suatu iklan tentunya adalah atensi atau perhatian dari audiensBuatlah kampanye promosi yang menyita perhatian dulu, jualannya belakangan. Apabila Anda merencanakan membuat brosur atau landing page memaksimalkan tahap ini dengan pemilihan headline yang bikin orang langsung fokus kepada kampanye promosi Anda.

2. Interest
Atensi yang timbul dari audiens terhadap sebuah iklan selanjutnya akan berpengaruh pada ketertarikan konsumen pada kampanye promo Anda. Ketertarikan dari audiens bisa didapat melalui banyak hal. Tidak ada yang baku harus seperti apa. Kalau contoh artikel kemarin saya mencatut nama Pak Jokowi, sedangkan sebenarnya dari hal sederhana atau jauh dari itu pun bisa, misal dari sisi eksternal iklan seperti tampilannya yang outstanding, menarik, dan unik agar memiliki stopping-power yang tinggi. 

3. Desire 
Desire ini sebenarnya adalah tahap konsumen “menyimak” iklan. Disini mulai tonjolkan sisi apa yang Anda jual. Kalau saya sih lebih suka mengungkapkan keresahaan konsumen, kemudian kita sebagai penjual akan memberikan solusinya berupa produk atau jasa yang kita tawarkan. Disamping kita ungul-ungulin produk dagangan kita juga dong tentunya.

4. Conviction 
Keyakinan atau conviction adalah point utama dari formula ini, bahkan menjadi yang terpenting saat ini.  Audiens yang telah memiliki atensi, minat, dan hasrat tidak akan berarti apa-apa jika iklan tidak mampu menyajikan pesan yang mampu membuat audiens memiliki keyakinan terhadap produk yang disampaikan di dalam iklan. 

5. Action 
Atensi, minat, dan hasrat, serta keyakinan yang dimiliki audiens sebagai bentuk respon terhadap suatu iklan akan membawa audiens pada tindakan akhir. Aksi di sini berarti si audiens melakukan respon yang benar-benar langsung berhubungan dengan pesan yang disampaikan di iklan: misalnya dalam konteks iklan komersial, pesan yang disampaikan adalah untuk membeli produk, dan aksi yang dilakukan audiens bisa mulai dari mencari tahu produk di website, bertanya pada teman, hingga sampai pada tahap mencoba, membeli produk.

Yup kurang lebih seperti itu, karena perancang kampanye iklan yang sukses tahu saatnya memberikan Atention, Interest, Desire, Conviction dan  tawaran Action kepada calon pembeli yang di bangun satu-persatu dalam waktu yang berbeda! 

Nah setelah Anda mengetahui AIDCA saatnya Anda juga mengetahui tentang AISAS.

Wadoo apa lagi nih bang??

Kita tahu jaman sekarang serba digital. 10 tahun yang lalu tidak ada yang bisa membayangkan  bahwa saat ini manusia berbelanja menggunakan internet adalah hal yang lazim. Oleh karena itu, lahirlah model baru lagi. 

Tenang, konsep ini sebenarnya hampir sama, cuma alur interaksinya disederhanakan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman saja. Meskipun AIDCA ini adalah Konsep Marketing Lama. tetapi masih berhubungan erat. Oleh karena itu sebelum Anda membaca artikel : AISAS, konsep marketing baru, Anda perlu juga membaca artikel ini agar pemahaman Anda tidak melenceng.


Oke, Semoga bermanfaat 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *